Air Susu Ibu (ASI) menjadi salah satu faktor
terpenting yang mendukung tumbuhkembang anak. Tidak hanya sekadar pertumbuhan
secara fisik saja, namun juga semakin mendekatkan hubungan psikologis anak dan
ibu. Namun sangat disayangkan sekali, di era sekarang banyak ibu yang tidak
terlalu memperhatikan ASI bagi anak. ASI sering hanya masukkan ke dalam botol. Ibu
yang menyusui secara langsung anaknya masih rendah.
Data World Breastfeeding Trends Initiative
(WBTI) pada tahun 2012 mencatat, hanya 27,5 persen ibu di Indonesia yang mampu
memberikan ASI eksklusif. Angka ini menempatkan Indonesia di peringkat 49 dari
51 negara pendukung pemberian ASI eksklusif.
Sebanding dengan data WBTI tersebut, data angka
kematian bayi di Indonesia masih tinggi. Sesuai dengan Data Survei Demografi
Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 menunjukkan angka kematian bayi (AKB) di
Indonesia sebesar 32 per 1000 kelahiran hidup atau sebanyak 144.000 bayi. WHO
mencatat angka AKB di dunia sebesar 35 per 1000 kelahiran hidup. Angka itu
masih jauh di bawah target Millenium Development Goal (MDGs) kelima, yaitu 23
per 1000 kelahiran hidup pada 2015.
“Artinya, setiap satu jam 10 bayi Indonesia meninggal
dan setiap 6 menit 1 bayi Indonesia meninggal karena tidak memperoleh air susu
dari ibunya pada satu jam pertama kelahiran,” ujar Mia Sutanto, pendiri
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) seperti yang dikutip dari laman Kompas.
Pemberian ASI eksklusif adalah salah satu upaya
menurunkan angka kematian bayi. Menyusui dini juga dapat menyelematkan 22
persen kematian bayi baru lahir. Ini sesuai dengan pembuktian bahwa ASI dapat
mencegah 13 persen kematian balita.
Mia mengaku bahwa pemberian ASI eksklusif dari
usia 0 sampai 6 bulan sangat sulit. Banyaknya kendala yang harus dihadapi oleh
ibu, seperti karir membuat para ibu memilih memberikan susu formula. Padahal ASI
jauh lebih baik dan menyeluruh daripada susu formula. ASI eksklusif jelas tidak
bisa tergantikan.
Edukasi tentang pentingnya ASI memang dirasa
kurang. Ibu butuh dukungan dari berbagai pihak untuk mampu memperhatikan hal
tersebut, baik dari pemerintah, keluarga, dan masyarakat itu sendiri. Kualitas
kehidupan negara ditentukan dari bagaimana seorang ibu dan keluarga mendidik
dan membesarkan anak-anaknya.
Sumber gambar : www.gudangkesehatan.com

0 comments :
Post a Comment